Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Tanda Tanya

BISIKAN Wahai angin yang bernapas sejenak karena lelah, pernahkah kamu kedinginan? Seakan kamu hendak menabur uap tapi berbalik padamu Pernahkah kamu terdiam menyelami hangatnya mentari dan muslihat embun? Seakan kamu terlelap di antara dua nuansa kedamaian Ya, mungkin tak kau sadari waktu pernah mengantarkan hal serupa Namun kamu hanya membeku tanpa arah Bergerak tanpa haluan, bak badai pemusnah Sungguh, aku pun demikian wahai kawan Jiwa ini rapuh dan terlalu padam untukku seorang Tidak ada lagi penerang selain Dia Kenapa aku begitu bodoh dahulu?

PUISIKU

ULASAN HATI DI MALAM YANG DINGIN Hai, kekasihku Bolehkah aku bermunajat? Kasihmu telah sampai kepadaku Tapi, mengapa kini terasa begitu berat Hingga aku tak ingin merajuk kembali Jarak kini berpetik di antara kita Apa kamu menyadarinya? Kamu tak lagi sama. Setelah cahaya menyulam detik dan keadaan Kurasa, aku tlah kehilangan Pikiranku tak lagi bertaut dalam angan Jiwaku tak lagi berada di tempat yang sama Kita? Apa kata itu masih ada di sana? Hai, kekasihku.... Sedang apa dirimu? Aku di sini menanti dering kabar Bukankah dulu amarah menguasaimu ketika aku tak ada kabr? Lantas sekarang apa? Aku harus meluapkan semuanya kepada siapa? Hatiku sudah muak dengan omong kosong! Pergilah, sayang Bawalah semua kenangan “putih” ini bersamamu Aku sudah tak berdaya Cukup, sudah. Ngoro, myf

PUISIKU

Kepada pujaan hati, dengarkah kau? Meringkuk di bawah cahaya lilin Sendiri berteman asa Tidakkah kau merasa? Jauh sekali aku berharap Melipat tangan, panjatkan mutiara Namun tak kunjung hadir Bukan waktu yang aku inginkan Bukan kasih yang aku harapkan Juga bukan mereka yang aku nantikan Hanya kamu. Perlahan, perih menitih dalamnya sayatan Mungkin mereka sudah lelah Atau mungkin mereka terkait denganmu, entahlah Aku hanya bisa nikmati nyanyian sendu Di tengah malam, walau tetes menitik turun Aku hanya bisa menggenggam tangan sendiri Merasakan kehangatan diri Tanpa orang lain ketahui Aku terjatuh ke dalam jurang Di sanalah udara mengikis angin Begitupun angin, ia tak mampu bertahan bersamanya Di sanalah aku mulai tersedu Begitupun hatiku yang tak sanggup tertawa lagi Kepada pujaan hati, dengarkah kau?  Ngoro, myf

MUNGKIN

Ngoro, 9 Juli 2017. Entah apa yang saat ini dia pikirkan. Bagaimana keadaannya, apa dia makan teratur dan tidur dengan nyenyak, aku pun tidak tahu. Aku hanya berpegang teguh pada prinsipku sendiri, bukan keegoisanku. Apa prinsipku? Lebih baik berterus terang walau terasa menyakitkan. Lebih baik berbagi kesedihan dan duka yang nyata daripada harus bertahan sendiri. Disaat dia mempertanyakan tentang ‘kasih sayang’ itu sudah membuatku terluka. Bukan kata maaf yang aku inginkan, tapi sebenarnya aku sedang menunggu ‘ungkapan lain’. Setelah apa yang aku lakukan tidakkah itu cukup bagimu untuk mendapatkan kasih sayang? Lantas apa dengan melarikan diri seperti ini akan mengubah segalanya? Myf.