Postingan

Menampilkan postingan dari 2014
Gambar
Melampir Di Pucuk Nanti Untuk yang di sana. Segeralah sadar, karena alam masih tersadar. Alam mulai bertemu Aku menatap haluan tangan Serombak jalan melintasi layang "Akankah kita menyentrik di atas pohon?" Kemarilah,  Ujung dari napas rambutmu, menanti Meleraikan daun semi yang risau; sia-sia Kemarilah, Lepaskan denyut yang tak berdamai Alam sudah menerobos ke kuil pucuk Sampiran kupu kertas; siap bertanya Di sini, aku. Di mana dia? Di dalam kabut Di mana sayap? Kalutan semai akan berkunjung Angkatlah dagumu! Tangkis semua yang berpintu Karena aku melampir di pucuk pohon Setali ranting akan terikat Tapi di mana jiwa, di sanalah kebebasan terikat                                               ...
Episode 3… Hari ini, semuanya telah berbeda. Entah apa yang mereka satukan dan tanyakan padaku. Tapi senyuman itu… adalah senyuman penuh makna. Aku terpaku dari keterjagaanku – dan mencoba mengingat kembali masa itu. Saat di mana semuanya memang mengerikan dan sangat mematikan. Hanya saja…             “Semoga berhasil,” ucapnya pelan kala itu. Dia yang menodongkan kapak taring itu menyemikan musim kemarau dengan pasti. Mereka juga meninggalkan senyuman yang…, subhanallah. Apa mereka benar malaikat? Tanyaku dalam hati kemudian. Lalu, seluruh tubuhku seolah-olah berpikir keras akan pertanyaan apakah, di mana, dan mengapa. Aku memutuskan untuk berebah. Menunggu hari esok. Dan memulai semuanya yang telah hilang…. ***             “Bu, aku pergi dulu, ya… Assalamu’alaikum,”             “Ya, hati-h...
Episode 2... Hari ini, yang terjadi adalah... Tanya. Suatu lingkupan kata dalam petik yang bernyawa apakah, mengapa dan di mana. "Ingat janjimu! Ingat janjimu!" pekikan itu selalu menerjang tubuhku untuk tidak sesekali menyentuh larangan-Nya. Sekalipun aku harus berlari dan berbalik arah, semuanya tetap sama. Satu tanya, apakah, mengapa.  "Ampuni aku... Ku mohon ampuni aku! Jika Engkau selalu mengungkit masa itu... Biarkan aku putar kembali saat di mana Engkau selalu mengunci takdir kebenaran dalam hidupku. Saat di mana Engkau selalu menyembunyikan pisau yang sangat tajam untukku. Ku mohon...., ampuni aku, Allah." ratapku dengan iringan air mata. Aku mulai terjaga. Di sana, ada 2 Malaikat yang mungkin sudah siap untuk mengunyahku. Aku mencoba bangkit di atas tumpukan air mata. Sedikit demi sedikit. Mereka juga bergerak sama persis. Yang bercambuk besi berselimut api, menghadang dari kiri. Yang berkapak taring panjang, menghadang dari kanan. Napasku te...