Episode 3…
Hari ini,
semuanya telah berbeda. Entah apa yang mereka satukan dan tanyakan padaku. Tapi
senyuman itu… adalah senyuman penuh makna. Aku terpaku dari keterjagaanku – dan
mencoba mengingat kembali masa itu. Saat di mana semuanya memang mengerikan dan
sangat mematikan. Hanya saja…
“Semoga berhasil,” ucapnya pelan
kala itu. Dia yang menodongkan kapak taring itu menyemikan musim kemarau dengan
pasti. Mereka juga meninggalkan senyuman yang…, subhanallah. Apa mereka benar malaikat? Tanyaku dalam
hati kemudian. Lalu, seluruh tubuhku seolah-olah berpikir keras akan pertanyaan
apakah, di mana, dan mengapa.
Aku
memutuskan untuk berebah. Menunggu hari esok. Dan memulai semuanya yang telah
hilang….
***
“Bu, aku pergi dulu, ya…
Assalamu’alaikum,”
“Ya, hati-hati!”
Pagi yang
cukup menjemukan, ditambah lagi dengan keterlambatanku.
“Semoga saja, tidak ketemu dia
lagi!” gerutu sambil sesekali menggigit bibir dan menggenggam setir sepeda
dengan erat. Alhasil, Allah sudah berkendak lain. Kita bertemu dalam kilasan
untuk yang kesekian kalinya. Seseorang yang bertamu di antara tanda petik, dia
pasti akan mendapatkan kata-kata seruan, tanya, dan bisikkan, bukan? Tapi saat
dia sudah hadir dalam dunia ruangku, aku lebih memilih untuk membiarkannya
terisi tanda ELIPSIS.
Satu hal
yang sudah aku lakukan di balik tanda ELIPSIS itu. Aku ingin menjauhi semua
yang berbau “sayap lembut Sang Kupu” . Mungkin ini yang dimaksud oleh 2
Malaikat kemarin. Cukup satu langkah ke belakang, jika kita memakai 1000
langkah untuk ke depan.
“Dosa ini, itu juga tidak akan
mengatasi sayapmu kelak.”
Aku
mencoba menguatkan diriku. Pasti. Hanya saja, aku belum tahu apa aku sudah
melangkah, atau aku masih berpijak di antara ruang kilas ini.
Episode 4
Setiap
kali aku berharap, alam selalu mengalir deras. Saat itu juga, hujan dating
lagi. Dia tersenyum sebelum hujan. Apalagi yang menyenangkan selain melihat
rentangan tali dari sudut yang cukup rawan.
Aku
ingin berdo’a sebelum hujan, Allah. Sekarang aku sadar, hujan hanya pelengkap
akhir cerita seperti sad ending, happy ending. Dan sebelum hujan adalah
perwakilan rencana yang Engkau susun.
“Semuanya begitu indah dan rahasia.
Dia sungguh tersenyum, meskipun aku hanya menikmati dengan mata jauh. Tapi
keinginanku, sudah benar kucapai.” Aku menindihkan kepalaku di atas bantal dan
angan hujan.
“Ayahmu lebih penting dari
segalanya…!” terdengar lirih senandung bisikan yang tidak ingin kudengar. Aku
tidak ingin membahasnya dalam catatanku! Malaikat itu cukup meyakikankanku akan
satu hal, yaitu tetap di bawah hujan.
…
Semua terlihat riuh dalam dekapan
Ayah. Aku menikmati ini, untuk pertama kalinya. Aku memang tinggal sangat jauh
dari orang tuaku, karenaya aku cukup kurang tahu ada apa di balik senyuman
orang tuaku. Sofa itupun mulai mengkerut. Detik orang tuaku akan pergi, sudah
datang. Mereka hanya berkunjung 1 jam.
“Ya sudah, Ayah sama Ibu pulang
dulu, ya.” Aku mengulurkan tangan untuk menyaliminya. Tangannya terlihat rapuh
dengan tonjolan yang sangat tidak asing bagiku. Apa ini?
“Bukan apa-apa, Nak.” Beliau
memandangku hangat. Aku tidak mampu membalasnya. Aku hanya memutar tubuhku dan
mendekati Ibu.
Dia sakit! Ayahku sakit!
Tangannya sangat ringan, dan tonjolan itu… aku mengenalnya. Oh, Allah…!
Sejak
hari itu, aku berjanji. Aku ingin membantu orang tuaku.
“Uang kami belum cukup untuk melakukan
operasi, dik,” ucapnya lirih. Kakiku tidak bisa berpijak dengan benar. Semuanya
terasa berat. Kenapa harus janji lagi?
“Kami pulang dulu….” Mereka dengan
sigapnya ke luar dalam angin. Sangat rapuh! Aku memang sangat rapuh dari Ayah.
“Hati-hati!”
Komentar