Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014
Gambar
Melampir Di Pucuk Nanti Untuk yang di sana. Segeralah sadar, karena alam masih tersadar. Alam mulai bertemu Aku menatap haluan tangan Serombak jalan melintasi layang "Akankah kita menyentrik di atas pohon?" Kemarilah,  Ujung dari napas rambutmu, menanti Meleraikan daun semi yang risau; sia-sia Kemarilah, Lepaskan denyut yang tak berdamai Alam sudah menerobos ke kuil pucuk Sampiran kupu kertas; siap bertanya Di sini, aku. Di mana dia? Di dalam kabut Di mana sayap? Kalutan semai akan berkunjung Angkatlah dagumu! Tangkis semua yang berpintu Karena aku melampir di pucuk pohon Setali ranting akan terikat Tapi di mana jiwa, di sanalah kebebasan terikat                                               ...
Episode 3… Hari ini, semuanya telah berbeda. Entah apa yang mereka satukan dan tanyakan padaku. Tapi senyuman itu… adalah senyuman penuh makna. Aku terpaku dari keterjagaanku – dan mencoba mengingat kembali masa itu. Saat di mana semuanya memang mengerikan dan sangat mematikan. Hanya saja…             “Semoga berhasil,” ucapnya pelan kala itu. Dia yang menodongkan kapak taring itu menyemikan musim kemarau dengan pasti. Mereka juga meninggalkan senyuman yang…, subhanallah. Apa mereka benar malaikat? Tanyaku dalam hati kemudian. Lalu, seluruh tubuhku seolah-olah berpikir keras akan pertanyaan apakah, di mana, dan mengapa. Aku memutuskan untuk berebah. Menunggu hari esok. Dan memulai semuanya yang telah hilang…. ***             “Bu, aku pergi dulu, ya… Assalamu’alaikum,”             “Ya, hati-h...