Nyatanya, Janji Untuk Diingkari
Aku melihat pagi, tapi rupanya sudah bukan pagi yang sama. Senja pun terlewat begitu saja, tanpa rasa dan makna. Ternyata menjadi dewasa cukup merepotkan, terutama ketika mengikhlaskan. Aku juga bukan layaknya aksara yang mampu merapikan keadaan dalam heningnya halaman. Bukan juga seperti angin pagi yang mungkin kembali di waktu senja. Semuanya bisa berbeda. Terlebih keadaan seperti saat ini. Tapi aku bisa memahami. Hanya saja, tidak baginya. Cerita waktu itu dan saat ini mungkin tak sama. Sudah usang. Begitupun janji yang terucap. Salah bila percaya, nyata bila mampu menjaga. Tapi nyatanya, teringkari.