Episode 2...
Hari ini, yang terjadi adalah... Tanya. Suatu
lingkupan kata dalam petik yang bernyawa apakah, mengapa dan di mana.
"Ingat janjimu! Ingat janjimu!" pekikan itu selalu menerjang tubuhku untuk tidak sesekali menyentuh larangan-Nya. Sekalipun aku harus berlari dan berbalik arah, semuanya tetap sama. Satu tanya, apakah, mengapa.
"Ingat janjimu! Ingat janjimu!" pekikan itu selalu menerjang tubuhku untuk tidak sesekali menyentuh larangan-Nya. Sekalipun aku harus berlari dan berbalik arah, semuanya tetap sama. Satu tanya, apakah, mengapa.
"Ampuni aku... Ku mohon
ampuni aku! Jika Engkau selalu mengungkit masa itu... Biarkan aku putar kembali
saat di mana Engkau selalu mengunci takdir kebenaran dalam hidupku. Saat di
mana Engkau selalu menyembunyikan pisau yang sangat tajam untukku. Ku
mohon...., ampuni aku, Allah." ratapku dengan iringan air mata.
Aku mulai terjaga. Di sana, ada 2
Malaikat yang mungkin sudah siap untuk mengunyahku. Aku mencoba bangkit di atas
tumpukan air mata. Sedikit demi sedikit. Mereka juga bergerak sama persis. Yang
bercambuk besi berselimut api, menghadang dari kiri. Yang berkapak taring
panjang, menghadang dari kanan. Napasku tersenggal-senggal –hingga aku pun tak
sanggup menahan derasnya air mata. Kakiku sudah tidak bisa diajak
kompromi. Lunglai, menciut, dan pasi..., adalah wujudku sekarang. Sementara
mereka, mereka sudah berhasil menembus kegelapan yang sangat menutupi betapa
ganasnya mereka.
"Subhanallah!"
pekikku dalam hati sambil tetap menitihkan air mata.
Mereka tepat di depanku. Sangat
dekat. Besar. Hitam..., dan sangat menyesakkan. Tapi mereka hanya menatapku
dengan seksama, seolah bertanya, apakah aku orangnya?
Mataku mulai menangis keras setelah aku mencoba mengamati besi yang berselimut api itu. Malaikat berkapak taring pun ikut serta. Dia mengacungkan kapaknya dan… diiringi dengan tepukan keras di bahuku. Sangat panas. Aku terjatuh, beserta kerutan di dahiku. Kenapa mereka seperti itu?! Apakah… bentakku dalam hati, namun sejenak kepergian mereka – hujan datang menyapa dan menyapu panas. Seunyi…
Mataku mulai menangis keras setelah aku mencoba mengamati besi yang berselimut api itu. Malaikat berkapak taring pun ikut serta. Dia mengacungkan kapaknya dan… diiringi dengan tepukan keras di bahuku. Sangat panas. Aku terjatuh, beserta kerutan di dahiku. Kenapa mereka seperti itu?! Apakah… bentakku dalam hati, namun sejenak kepergian mereka – hujan datang menyapa dan menyapu panas. Seunyi…
Bersambung...
29 April 2014
Komentar