Untuk yang sesaat, aku ingin menyinggung tentang seberapa petang langit bergigi. Hari lalu, dia yang bersebelahan denganku, sudah terikat akan di mana dia harus melangkah. Dia yang bertemu di persimpangan kilas denganku, juga sudah menantikan yang seharusnya ia nantikan. Sekalipun ia harus menengadah di ujung kertas dengan garis simpul yang akurat. Sekalipun dia harus bergusi tipis dan empuk di lilitan gigi yang berkawat.
Saat itu juga, aku mencoba berbalik. Aku mencoba menerka apa yang seharusnya bulan sabit terka di atas pohon persik. Sebuah janji yang sudah aku lontarkan dalam sebuah kesepakatan suci. Satu makna....
Satu makna yang berharap Allah mampu membubuhkan tanda silang di antara persik lain. Dia cukuplah dia! Dia memang hanya dia! Dia yang bertakhta di dalam jangka yang seharusnya tidak pernah kududuki. Ya, satu lapisan yang harus aku balut dengan kepingan tanah liat yang berparas "pasti".
Satu makna yang berharap Allah mampu membubuhkan tanda silang di antara persik lain. Dia cukuplah dia! Dia memang hanya dia! Dia yang bertakhta di dalam jangka yang seharusnya tidak pernah kududuki. Ya, satu lapisan yang harus aku balut dengan kepingan tanah liat yang berparas "pasti".
Bersambung....
28 April 2014, Jombang.
Komentar