CERPENKU



15 Menit Saja!

            “Yuuuhhhhuuuuu!!!” Wina berhambur di bawah air hujan setelah memakaikan mantelnya di badan Ari dan membuat peringatan agar Ari tidak melepaskan mantel itu. Dia sudah berjanji akan berada di bawah hujan selama 15 menit. Ari tidak boleh menganggunya, tentu saja.
Di bawah patung, Ari menatap kepergian Wina dengan mata kagum.
            Dia terlihat cantik di bawah hujan. Tangannya terbentang dan kepalanya terangkat ke atas seakan berbicara sesuatu pada mereka. You like the rain, Win.
            “Aku punya satu permintaan, Tuhan. Ijinkan suaraku lebih keras daripada gemercik hujan ini. Aku mohon,” ucapnya sambil berputar-putar berusaha menangkap air hujan dengan kepala terangkat dan tangan terentangkan.
Wina berhenti dan menarik napas. Sesaat Ari terkejut karena dia tiba-tiba berhenti, tapi ….
            “Alasan kenapa aku ke resto karena aku ingin melihat Ari nanyi lagi, Tuhan. Jadi tolong, jangan buat dia berhenti nyanyi karena aku!!!”
Ari menatap pemilik suara dengan kaget. Suaranya berat dan serak. Wina menghampiri Ari dengan terengah-engah.
Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Ari dan berkata, “Aku suka mantel dan apapun tentangmu. Maaf membuatmu menunggu.”
            “Udah lima belas menit, ‘kan?” Wina menatap Ari dengan sayu, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Ari memegangi sikunya dan memberikan lengannya sebagai bantalan.
            Dia kedinginan.
            Wina memberanikan diri melihat Ari untuk terakhir kalinya.
            “Aku kembali,” ucapnya sambil ternyum sontak membuat Ari menangis. Entah kenapa hatinya seperti mencelos saat melihat gadis itu perlahan menutup mata.
            “Ar!!!” teriakan Ciko membuat pikirannya tambah kacau.
“Wina kabur dari rumah sakit buat ketemu sama elo dan keadaannya –“ pandangan Ciko beralih pada Wina yang terbujur dengan berbantal lengan Ari. Dia terlihat damai, pikirnya.
            “Dia sedang tidur, Cik.” Mata Ari memerah. Dia berusaha menekan suaranya agar terdengar baik-baik saja.
            “Wina bilang, dia kembali buat gue.”
Ciko mendekatkan wajahnya ke arah Wina dan terkejut ketika mendapati gadis itu sudah tidak bernapas.
Dia berpaling ke arah Ari, lalu menghantantamkan tubuh Ari ke dinding.
            “Win, Wina?! Wina?!” Ciko menggoyang-goyangkan tubuh Wina. Ciko terlihat panik – Ari lebih panik lagi.
            “Liat? Lo liat dia baik-baik aja? Buta kali, lo!!!” Ciko berlari meninju sahabatnya lagi. Air hujan menambah sengit pertarungan di antara keduanya. Ciko memang bukan siapa-siapa di sini, tapi dia sudah berjanji akan menghajar Ari kalau Ari berusaha menyalahkan dirinya sendiri.
            “Harusnya lo gak nanggung semuanya sendiri, Ar! Berhenti jadi sok kuat di depan gue!”
 “Wina? Win? Ayo bangun, Ciko gak percaya kalau kamu mau balik lagi,” ucap Ari melembut. Tangannya terjulur meraih kepala Wina dari tangan Ciko.
Ari tidak menghiraukan omelan dan betapa kerasnya tinju dari Ciko. Dia malah kembali menyelimuti Wina dengan halus, sebelum akhirnya dia sadar ada yang hilang dari hidupnya.
Bahkan kamu tidak memberiku kesempatan untuk itu, Win!
Ari merasa tubuhnya kaku dan ada triliunan es yang menancap di dadanya hingga dia tidak bisa bernapas lagi. Air matanya mengalir deras diikuti tangisan yang meledak dari Ciko.
            “WIINAAA!!!”



For Ari                                                                                                                        
“Kalau kamu nerima surat ini, berarti aku sudah jadi bagian dari hujan.”
            Hari ini rencananya aku ingin pergi ke restonya Ciko untuk menghajarmu. Tentu. Itu karena aku dengar kamu sudah tidak mau nyanyi lagi dan sibuk mencari info tentang aku. Sayangnya, aku tidak punya tenaga besar untuk melawanmu. Dan aku berniat meminjam kekuatan Tuhan lewat hujan. Karena itu, sudah kuputuskan untuk kabur dari rumah sakit!
            Itu semua salahmu! Aku harus menanggung rasa sakit ini sendirian karena kamu terlalu lama.

            Maaf, karena sudah hadir di dalam hidupmu.
            Maaf, karena sudah mengabaikanmu.
            Tapi seandainya aku diberi kesempatan.


            Ari, Ari, Ari. Aku ingin selalu memanggil namamu. Aku ingin menjadi penonton yang berteriak memanggil namamu. Itulah kenapa aku sangat mencintai hujan, karena hujan mengalir tanpa henti sepertimu. Jadi kumohon, biarkan waktu berhenti meski hanya 15 menit saja. Aku akan memintanya darimu.
Percayalah, aku selalu mengingatmu dari awal hingga akhirnya penyakit ini ada. Lima belas menit yang indah, bukan?
                                                                                                                                    Wina


Komentar

myf mengatakan…
hehehe .... he'eh.e lupa kalo pacarnya ada di sana #eh

Postingan populer dari blog ini