Episode selanjutnya ....
LOVE
Cinta. Aku termenung akan artinya. Aku mencoba menyesuaikan jejak yang telah ada tentang makna dari kata itu. Tapi kali ini, cintaku pernah pergi. Hanya sesaat.
Aku pernah berpikir, bagaimana seseorang bisa mencintai orang
lain kalau dia tidak mengetahui watak asli orang tersebut?
Aku
tidak pandai berkata tentang yang satu ini, karena aku masih belum menemukan
cinta untuk makhluk. Cinta yang saat dia tersenyum, kita bisa berharap bahwa
dialah tempat terakhir kita nanti.
Tahukah
kamu, peri kecil?
Aku kehilangan senyuman dari dirinya minggu lalu. Dia
terlihat sangat murung. Bahkan sensasi debar degup itupun juga menghilang. Saat
itu, aku tahu satu hal … I don’t wanna lose you.
Apa artinya bertemu kalau hanya aku yang tahu bahwa aku melihatnya?
Bukankah pertemuan itu adalah saat kita bsa bertatap muka, meski sekilas?
Apa artinya bertemu kalau hanya aku yang tahu bahwa aku melihatnya?
Bukankah pertemuan itu adalah saat kita bsa bertatap muka, meski sekilas?
“Dia sudah peunya pendamping.” Aku
tercekat akan ingatan itu.
Apakah
ada masalah diantara mereka? Apa ada masalah di sana? Mengenai kata-katamu
waktu itu, aku sangat jengkel!
“Laki-laki
juga punya perasaan sama seperti wanita. Hanya saja, laki-laki lebih tegar dan
memilih diam untuk bertindak.”
You’re
right. Tapi tidak semua pria memilih untuk diam dan tegar. Dan tidak semua pria
memiliki perasaan dalam bertindak. Aku tidak menghina kaum laki-laki, karena
aku tahu Nabi kita juga seorang laki-laki. Aku sadar akan itu. Hanya saja, saat
ini aku belum pernah merasakan laki-laki memiliki perasaan sebanding dengan
wanita.

Komentar